Jumat, 13 Juli 2018

✈️⚖DOA UNTUK KEDUA ORANG TUA YANG SUDAH MENINGGAL LEBIH AFDHAL DARIPADA BERHAJI DAN BERUMRAH UNTUK KEDUANYA

✈️⚖DOA UNTUK KEDUA ORANG TUA YANG SUDAH MENINGGAL LEBIH AFDHAL DARIPADA BERHAJI DAN BERUMRAH UNTUK KEDUANYA

๐Ÿ“œFatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah

๐Ÿ“ฌPertanyaan:
Seseorang ayah atau ibunya meninggal, sehingga dia ingin mengirim pahala amal saleh untuk mereka, namun pertama kali yang muncul dalam pikirannya adalah berhaji untuk keduanya sedangkan dia telah  melakukan
haji yang wajib. Mana yang lebih afdhal (utama) pada kondisi ini, mendoakan kedua orang tua dan memperbanyak doa di tempat yang
baik dan waktu yang baik ataukah berhaji dan berumrah untuk keduanya?

๐ŸŒธJawaban:
Yang lebih afdhal adalah mendoakan kedua orang tua, sedangkan haji dan umrah dia jadikan untuk dirinya. Dalilnya yaitu bahwasannya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:

 ุฅِุฐَุง ู…َุงุชَ ุงู„ุฅِู†ْุณَุงู†ُ ุงู†ْู‚َุทَุนَ ุนَู…َู„ُู‡ُ ุฅِู„ุงَّ ู…ِู†ْ ุซَู„ุงَุซَุฉٍ ุตَุฏَู‚َุฉٍ ุฌَุงุฑِูŠَุฉٍ ุฃَูˆْ ุนِู„ْู…ٍ ูŠُู†ْุชَูَุนُ ุจِู‡ِ ุฃَูˆْ ูˆَู„َุฏٍ ุตَุงู„ِุญٍ ูŠَุฏْุนُูˆ ู„َู‡ُ

“Apabila seseorang meninggal, terputus seluruh amalannya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Abu Dawud no. 2880, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Dalam hadits ini Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak bersabda: berhaji untuknya atau berumrah untuknya, sedangkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentunya tidak akan mungkin  meninggalkan penyebutan perkara yang lebih utama lalu menyebutkan perkara yang kurang utama. Bahkan tidaklah Beliau menyebutkan kepada umatnya melainkan perkara yang lebih afdhal. Sedangkan kita tahu bahwa Beliau itu orang yang paling menasehati kepada manusia.

Jadi, Anda sendiri nantinya butuh kepada amal saleh. Karena akan datang  suatu hari yang Anda berharap ada satu kebaikan dalam mizanmu(timbanganmu)."


๐Ÿ•ŒLiqa' al Bab al Maftuh 226

๐Ÿ“ฒhttp://t.me/ukhwh

๐Ÿ‡ธ๐Ÿ‡ฆ

[ุงู„ุฏุนุงุก ู„ู„ูˆุงู„ุฏูŠู† ุงู„ู…ุชูˆููŠูŠู† ุฃูุถู„ ู„ู‡ู…ุง ู…ู† ุงู„ุญุฌ ูˆุงู„ุนู…ุฑุฉ]

Q ุจุนุถ ุงู„ู†ุงุณ ูŠุชูˆูู‰ ูˆุงู„ุฏู‡ ุฃูˆ ูˆุงู„ุฏุชู‡ ููŠุฑูŠุฏ ุฃู† ูŠู‚ุฏู… ู„ู‡ู… ุนู…ู„ุงً ุตุงู„ุญุงً ูุฃูˆู„ ู…ุง ูŠุชุจุงุฏุฑ ุฅู„ู‰ ุฐู‡ู†ู‡ ุฃู† ูŠุญุฌ ุนู† ุนู†ู‡ู…ุง ูˆู‡ูˆ ู‚ุฏ ุญุฌ ุงู„ูˆุงุฌุจ، ูู‡ู„ ุงู„ุฃูุถู„ ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุญุงู„ุฉ ุฃู† ูŠุฏุนูˆ ู„ู‡ู…ุง ูˆูŠูƒุซุฑ ุงู„ุฏุนุงุก ููŠ ุงู„ุฃู…ุงูƒู† ุงู„ุทูŠุจุฉ ูˆุงู„ุฃุฒู…ู†ุฉ ุงู„ุทูŠุจุฉ، ุฃู… ุฃู†ู‡ ูŠุญุฌ ุนู†ู‡ู…ุง ูˆูŠุนุชู…ุฑ ุนู†ู‡ู…ุง؟

A ุงู„ุฃูุถู„ ุฃู† ูŠุฏุนูˆ ู„ู‡ู…ุง، ูˆูŠุฌุนู„ ุงู„ุญุฌ ูˆุงู„ุนู…ุฑุฉ ู„ู†ูุณู‡، ูˆุฏู„ูŠู„ ู‡ุฐุง: ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„: (ุฅุฐุง ู…ุงุช ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุงู†ู‚ุทุน ุนู…ู„ู‡ ุฅู„ุง ู…ู† ุซู„ุงุซ: ุตุฏู‚ุฉ ุฌุงุฑูŠุฉ، ุฃูˆ ุนู„ู… ูŠู†ุชูุน ุจู‡، ุฃูˆ ูˆู„ุฏ ุตุงู„ุญ ูŠุฏุนูˆ ู„ู‡) ูˆู„ู… ูŠู‚ู„: ูŠุญุฌ ุนู†ู‡ ุฃูˆ ูŠุนุชู…ุฑ ุนู†ู‡، ูˆู„ุง ุดูƒ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู… ูŠูƒู† ู„ูŠุฏุน ุงู„ุฃูุถู„ ูˆูŠุฐูƒุฑ ุงู„ู…ูุถูˆู„، ุจู„ ู„ุง ูŠุฐูƒุฑ ู„ู„ุฃู…ุฉ ุฅู„ุง ุงู„ุฃูุถู„؛ ู„ุฃู†ู†ุง ู†ุนู„ู… ุฃู†ู‡ ุฃู†ุตุญ ุงู„ุฎู„ู‚ ู„ู„ุฎู„ู‚.

ูˆุฃู†ุช ุฃูŠู‡ุง ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู…ุญุชุงุฌ ู„ู„ุนู…ู„ ุงู„ุตุงู„ุญ، ูˆุณูŠุฃุชูŠ ูŠูˆู… ุชุชู…ู†ู‰ ุฃู† ููŠ ู…ูŠุฒุงู†ูƒ ุญุณู†ุฉ ูˆุงุญุฏุฉ.
 http://binothaimeen.net/content/6384

HUKUM SHADAQAH ATAS NAMA MAYIT, APAKAH DAPAT BERMANFAAT BAGINYA?

HUKUM SHADAQAH ATAS NAMA MAYIT, APAKAH DAPAT BERMANFAAT BAGINYA?

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al–Utsaimin ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡

Pertanyaan: Surat ini datang kepada asy-Syaikh Muhammad dari seorang pengirim yang bernama Shaleh Fahd dari ‘Ar’ur il penjaga negara. Ia mengatakan: saya mengirim surat ini kepada anda dari ‘Ar’ur. Ia mengatakan: Seorang lelaki meninggal dan meninggalkan keluarga dan saudara. Mereka ingin bersadhaqah untuknya (atas nama mayit) seperti dengan hewan sembelihan, memberikan uang, membagikan makanan dan pakaian, dan yang semisalnya. Mereka mengatakan bahwa seluruh pemberian dan perbuatan ini atas nama ruh mayit fulan. Apakah amalan ini dapat menambah amalan-amalan kebaikan sang mayit? Dan apakah shadaqah yang dishadaqahkan karib kerabatnya ini dapat bermanfaat bagi sang mayit dan mendekatkannya ke orang-orang shaleh ketika hisab? Berilah kami faedah semoga Allah membalas anda kebaikan dan melipatgandakan pahala anda dan kaum muslimin seluruhnya.

Jawaban:

al-Hamdulillah, shadaqah dari (atas nama) mayit akan dapat memberi manfaat, sama saja berupa harta atau makanan. Sungguh telah tsabit di dalam Shahih al-Bukhari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi was salam ditanya oleh seseorang. Ia mengatakan: “Wahai Rasulullah, Ibuku meninggal dunia tiba-tiba, andainya ia sempat berbicara tentulah ia akan bershadaqah. Apakah aku bershadaqah atas namanya? Beliau bersabda: ya.”


Maka amalan yang shaleh ini akan bermanfaata bagi mayit. Dan bisa jadi Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan amalan shaleh yang diniatkan atas namanya ini. Akan tetapi sudah sepantasnya diketahui bahwa amalan untuk mayit tidaklah sepantasnya untuk diperbanyak melakukannya. Amal tersebut meskipun diperbolehkan dalam syari’at, hanya saja tidak sepantasnya untuk sering-sering dilakukan sebagaimana yang sudah dilakukan oleh sebagian orang. Mereka terus-menerus memperbanyak amalan-amalan shadaqah untuk orang-orang mereka yang sudah tiada. Akan tetapi seorang insan itu hendaknya bershadaqah untuk dirinya sendiri atau untuk selain dirinya padahal ia membutuhkan amalan shaleh. Ia akan meninggal sebagaimana orang ini telah meninggal dan ia membutuhkan amalan shaleh sebagaimana orang ini membutuhkan amalan shaleh. Dan terus menerus melakukan amalan tersebut bukanlah bagian dari amalan salafush shaleh radhiyallahu ‘anhum. Akan tetapi bila dia melakukannya kadang-kadang saja, maka tidak mengapa dan itu akan bermanfaat bagi mayit.

Dan seorang insan itu lebih utama beramal untuk dirinya sendiri dari pada untuk orang lain. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi was salam telah bersabda: “Mulailah dari dirimu sendiri kemudian orang-orang yang engkau nafkahi (keluargamu).”

Apabila salafush shaleh yang mereka lebih semangat dalam melakukan kebaikan dan lebih semangat dalam memberikan manfaat kepada orang-orang mereka yang sudah meninggal, saja tidak sering-sering melakukannya, maka sudah sepantasnya bagi kita untuk meneladani mereka dan tidak memperbanyak melakukan amalan ini. namun bila seseorang itu melakukannya kadang-kadang (tidak sering), maka tidak mengapa.

Penanya: Saya khawatir sebagian pendengar memahami bahwa ini adalah seruan agar tidak melakukan amalan shaleh untuk mayit.

Pensyarah: Tidak, kami tidak menyeru untuk meninggalkannya secara mutlak. Hanya saja kami menyeru untuk tidak memperbanyak melakukannya, akan tetapi melakukannya kadang-kadang saja. Dan karena ini (memperbanyak melakukannya) bukanlah bagian dari amalan salafush shaleh. Adapun sesuatu yang diwasiatkan dari semisal perbuatan ini, maka ini ditunaikan sebatas dengan wasiat. Karena shadaqah tersebut bukanlah dari harta orang yang melaksanakannya, tetapi dari harta orang yang berwasiat. Maka ditunaikan sesuai dengan wasiat yang ada. Seandainya seseorang itu berwasiat untuk memberi makan orang-orang miskin di setiap hari, atau yang semisal itu, maka ia tunaikan wasiat tersebut. Karena itu dari hartanya, dan ia menunaikannya dalam batas-batas syar’iyyah yaitu wasiat itu dari sepertiga hartanya atau kurang dari itu.

Penanya: Dan juga amalan ini berulang dan banyak dilakukan, terkadang mengantarkan kepada kecintaan yang berlebih di dalam jiwa orang-orang yang melakukannya dan mereka meyakini sesuatu tertentu tentang orang ini.

Asy-Syaikh: Ya, terkadang bisa mengantarkan kepada sikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang yang meninggal ini.

Sumber: Silsilah Fatawa Nurun ‘alad Darb > kaset no. 6

az-Zakat< shadaqah at-Tathawu’

Download Audio Disini

Audio Player

00:00
00:00
==========================================



ุญูƒู… ุงู„ุชุตุฏู‚ ุนู† ุงู„ู…ูŠุช ูˆู‡ู„ ูŠู†ุชูุน ุจู‡؟

ุงู„ุณุคุงู„:

ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฑุณุงู„ุฉ ุญุถุฑุฉ ุงู„ุดูŠุฎ ู…ุญู…ุฏ ูˆุตู„ุชู†ุง ู…ู† ุงู„ู…ุฑุณู„ ุตุงู„ุญ ูู‡ุฏ ู…ู† ุนุฑุนุฑ ุงู„ุญุฑุณ ุงู„ูˆุทู†ูŠ ูŠู‚ูˆู„: ุฃุจุนุซ ู„ูƒู… ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฑุณุงู„ุฉ ู…ู† ุนุฑุนุฑ، ูŠู‚ูˆู„: ุฑุฌู„ ุชูˆููŠ ูˆุฎู„ู ู…ู† ุจุนุฏู‡ ุนูŠุงู„ ูˆุฅุฎูˆุงู†، ูˆู‡ู… ูŠุญุจูˆู† ุงู„ุชุตุฏู‚ ุนู†ู‡ ุจู…ุซู„ ุงู„ุฐุจูŠุญุฉ، ูˆู…ุซู„ ุฏูุน ุงู„ูู„ูˆุณ، ูˆุฏูุน ุงู„ุทุนุงู… ูˆุงู„ู…ู„ุงุจุณ، ูˆู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ، ูŠู‚ูˆู„ูˆู†: ูƒู„ ู‡ุฐุง ุงู„ุฏูุน ูˆุงู„ูุนู„ ุนู† ุฑูˆุญ ุงู„ู…ูŠุช ูู„ุงู†، ู‡ู„ ู‡ุฐุง ุงู„ุนู…ู„ ูŠุฒูŠุฏ ููŠ ุนู…ู„ ุงู„ุฑุฌู„ ุงู„ู…ูŠุช ู…ู† ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุฎูŠุฑูŠุฉ؟ ูˆู‡ู„ ุชู†ูุน ุงู„ู…ูŠุช ู‡ุฐู‡ ุงู„ุตุฏู‚ุงุช ุงู„ุชูŠ ุชุตุฏู‚ ุจู‡ุง ุฃู‚ุงุฑุจู‡ ูˆุชู‚ุฑุจู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ุตุงู„ุญูŠู† ุนู†ุฏ ุงู„ุญุณุงุจ؟ ุฃููŠุฏูˆู†ุง ุฌุฒุงูƒู… ุงู„ู„ู‡ ุฎูŠุฑ ุงู„ุฌุฒุงุก، ูˆุฃุนุธู… ุฃุฌุฑูƒู… ูˆุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูƒุงูุฉ.

ุงู„ุฌูˆุงุจ:

ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡، ุงู„ุตุฏู‚ุฉ ุนู† ุงู„ู…ูŠุช ุชู†ูุน ุณูˆุงุก ุจู…ุงู„ ุฃูˆ ุทุนุงู…، ู„ู‚ุฏ ุซุจุช ููŠ ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุณุฃู„ู‡ ุฑุฌู„ ูู‚ุงู„: ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡، ุฅู† ุฃู…ูŠ ุงูุชุชู„ุช ู†ูุณู‡ุง، ูˆุฅู†ู…ุง ู„ูˆ ุชูƒู„ู…ุช ู„ุชุตุฏู‚ุช، ุฃูุฃุชุตุฏู‚ ุนู†ู‡ุง؟ ู‚ุงู„: ู†ุนู….

ูู‡ุฐุง ุงู„ุนู…ู„ ุงู„ุตุงู„ุญ ูŠู†ูุน ุงู„ู…ูŠุช، ูˆุฑุจู…ุง ูŠูƒูุฑ ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ ุนู†ู‡ ู…ู† ุฎุทุงูŠุงู‡، ู„ูƒู† ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠุนู„ู… ุฃู† ุงู„ุนู…ู„ ู„ู„ุฃู…ูˆุงุช ู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ุงู„ุฅูƒุซุงุฑ ู…ู†ู‡، ูุฅู†ู‡ ูˆุฅู† ูƒุงู† ุฌุงุฆุฒุงً ููŠ ุงู„ุดุฑุน ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ุงู„ุฅูƒุซุงุฑ ู…ู†ู‡ ูƒู…ุง ูŠูุนู„ ุจุนุถ ุงู„ู†ุงุณ، ูŠูƒุซุฑูˆู† ุฏุงุฆู…ุงً ู…ู† ุงู„ุตุฏู‚ุงุช ู„ุฃู…ูˆุงุชู‡ู…، ูˆุฅู†ู…ุง ูŠุชุตุฏู‚ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู„ู†ูุณู‡، ุฃูˆ ู„ุบูŠุฑู‡ ูˆู‡ูˆ ู…ุญุชุงุฌ ุฅู„ู‰ ุงู„ุนู…ู„ ุงู„ุตุงู„ุญ، ุณูŠู…ูˆุช ูƒู…ุง ู…ุงุช ู‡ุฐุง ุงู„ุฑุฌู„ ูˆูŠุญุชุงุฌ ุฅู„ู‰ ุงู„ุนู…ู„ ูƒู…ุง ุงุญุชุงุฌ ุฅู„ูŠู‡ ู‡ุฐุง ุงู„ุฑุฌู„، ูˆูุนู„ู‡ุง ุฏุงุฆู…ุงً ู„ูŠุณ ู…ู† ุนู…ู„ ุงู„ุณู„ู ุงู„ุตุงู„ุญ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡، ูˆู„ูƒู† ูุนู„ ุฐู„ูƒ ุฃุญูŠุงู†ุงً ู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡، ูˆู‡ูˆ ู†ุงูุน ู„ู„ู…ูŠุช.

ูˆุงู„ุฅู†ุณุงู† ุฃูˆู„ู‰ ุจุนู…ู„ ู†ูุณู‡ ู…ู† ุบูŠุฑู‡، ูˆู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู…: «ุงุจุฏุฃ ุจู†ูุณูƒ ุซู… ุจู…ู† ุชุนูˆู„». ูˆุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุณู„ู ุงู„ุตุงู„ุญ ูˆู‡ู… ุฃุญุฑุต ู…ู†ุง ุนู„ู‰ ูุนู„ ุงู„ุฎูŠุฑ، ูˆุนู„ู‰ ู†ูุน ุฃู…ูˆุงุชู‡ู… ู„ู… ูŠูƒูˆู†ูˆุง ูŠูุนู„ูˆู† ุฐู„ูƒ ูƒุซูŠุฑุงً، ูุฅู†ู‡ ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู†ุง ุฃู† ู†ุชุฃุณู‰ ุจู‡ู…، ูˆุฃู† ู„ุง ู†ูƒุซุฑ ู…ู† ู‡ุฐุง ุงู„ูุนู„ ูˆู‡ุฐุง ุงู„ุนู…ู„، ูˆู„ูƒู† ุฅุฐุง ูุนู„ู‡ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุฃุญูŠุงู†ุงً ูู„ุง ุญุฑุฌ.

ุงู„ุณุงุฆู„:

ุฃุฎุดู‰ ุฃู† ูŠูู‡ู… ุจุนุถ ุงู„ู…ุณุชู…ุนูŠู† ุฃู† ู‡ุฐู‡ ุฏุนูˆู‡ ุฅู„ู‰ ุนุฏู… ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุตุงู„ุญุฉ ู„ู„ู…ูˆุชู‰.

ุงู„ุดูŠุฎ:

ู„ุง، ู„ุง ู†ุฏุนูˆ ุฅู„ู‰ ุชุฑูƒู‡ุง ู…ุทู„ู‚ุงً، ูˆุฅู†ู…ุง ู†ุฏุนูˆ ุฅู„ู‰ ุนุฏู… ุงู„ุฅูƒุซุงุฑ ู…ู†ู‡ุง، ูˆุฅู†ู…ุง ุชูุนู„ ุฃุญูŠุงู†ุงً، ูˆู„ู‡ุฐุง ู„ูŠุณ ู…ู† ุนู…ู„ ุงู„ุณู„ู ุงู„ุตุงู„ุญ، ุฃู…ุง ู…ุง ุฃูˆุตู‰ ุจู‡ ู…ู† ู…ุซู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ูู‡ุฐุง ูŠุนู…ู„ ููŠู‡ ุญุณุจ ุงู„ูˆุตูŠุฉ؛ ู„ุฃู†ู‡ุง ู„ูŠุณุช ู…ู† ู…ุงู„ ุงู„ูุงุนู„، ูˆุฅู†ู…ุง ู‡ูŠ ู…ู† ู…ุงู„ ุงู„ู…ูˆุตูŠ، ูˆูŠุนู…ู„ ุจุญุณุจู‡ุง، ู„ูˆ ุฃูˆุตู‰ ุฑุฌู„ ุจุงู„ุฅุทุนุงู… ุนู† ุงู„ู…ุณุงูƒูŠู† ููŠ ูƒู„ ูŠูˆู…، ุฃูˆ ู…ุง ุฃุดุจู‡ ุฐู„ูƒ ูุฅู†ู‡ ูŠุนู…ู„ ุจู‡؛ ู„ุฃู† ุฐู„ูƒ ู…ู† ู…ุงู„ู‡ ูŠุนู…ู„ ุจู‡ ููŠ ุงู„ุญุฏูˆุฏ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ، ูˆู‡ูŠ ุฃู† ุชูƒูˆู† ุงู„ูˆุตูŠุฉ ู…ู† ุงู„ุซู„ุซ ูุฃู‚ู„.

ุงู„ุณุงุฆู„:

ุฃูŠุถุงً ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ู…ุชูƒุฑุฑุฉ ูˆุงู„ูƒุซูŠุฑุฉ ุฑุจู…ุง ู‚ุฏ ุชุคุฏูŠ ุฅู„ู‰ ุบุฑุณ ุงู„ู…ุญุจุฉ ุงู„ุฒุงุฆุฏุฉ ููŠ ู†ููˆุณ ุงู„ู†ุงุดุฆูŠู†، ูˆูŠุนุชู‚ุฏูˆู† ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุฑุฌู„ ุดูŠุฆุงً.

ุงู„ุดูŠุฎ:

ุฃูŠ ู†ุนู…، ุฑุจู…ุง ุชุคุฏูŠ ุฅู„ู‰ ุงู„ุบู„ูˆ.

ุงู„ุณุงุฆู„:

ุฃูŠู‡ุง ุงู„ุณุงุฏุฉ، ูˆุฅู„ู‰ ู‡ู†ุง ู†ุฃุชูŠ ุฅู„ู‰ ู†ู‡ุงูŠุฉ ู‡ุฐุง ุงู„ู„ู‚ุงุก ุงู„ุฐูŠ ุงุณุชุนุฑุถู†ุง ููŠู‡ ุฃุณุฆู„ุฉ ุงู„ุณุงุฏุฉ ุงู„ู…ุณุชู…ุนูŠู†.

ุงู„ู…ุตุฏุฑ: ุณู„ุณู„ุฉ ูุชุงูˆู‰ ู†ูˆุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุฏุฑุจ > ุงู„ุดุฑูŠุท ุฑู‚ู… [6]

ุงู„ุฒูƒุงุฉ > ุตุฏู‚ุฉ ุงู„ุชุทูˆุน

Minggu, 01 Juli 2018

HUKUM MENGGAMBAR MAKHLUG BERNYAWA

✋๐Ÿป๐Ÿ“ข๐Ÿ“ฒ⚠ *HUKUM GAMBAR MAKHLUK BERNYAWA!!!*

✍๐Ÿป Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmy _rahimahullah_

๐Ÿ“ฌ *Pertanyaan:*
Hukum menggunakan gambar sebagai bahan praktek pelajaran?

๐Ÿ”“ *Jawaban:*
Menggambar makhluk bernyawa hukumnya haram sebagaimana sabda Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam:_

*ุฃุดุฏ ุงู„ู†ุงุณ ุนุฐุงุจุง ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ุงู„ู…ุตูˆุฑูˆู† ูŠู‚ุงู„ ู„ู‡ู… ุฃุญูŠูˆุง ู…ุง ุฎู„ู‚ุชู…*

“Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah para penggambar, kemudian dikatakan kepadanya: _“Hidupkanlah apa yang telah engkau buat”.!!_

Dan pada hadits yang lain dengan lafadz:

*ู…ู† ุตูˆุฑ ุตูˆุฑุฉ ูƒู„ู ุฃู† ูŠู†ูุฎ ููŠู‡ุง ุงู„ุฑูˆุญ ูˆู„ูŠุณ ุจู†ุงูุฎ*

“Barang siapa yang menggambar sebuah gambar (makhluk bernyawa) maka kelak dia akan diperintahkan untuk meniupkan ruh padanya padahal dia tidak akan mampu meniupkan padanya ruh."

Dan pada hadits qudsi bahwasannya Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ bersabda sebagaimana yang beliau riwayatkan dari Rabb-Nya:

*ูู…ู† ุฃุธู„ู… ู…ู…ู† ุฐู‡ุจ ูŠุฎู„ู‚ ูƒุฎู„ู‚ูŠ ูู„ูŠุฎู„ู‚ูˆุง ุฐุฑุฉ ูู„ูŠุฎู„ู‚ูˆุง ุดุนูŠุฑุฉ*

_”Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mencoba menciptakkan seperti ciptaan-Ku, maka coba dia menciptakan dzarroh (satu biji atom) atau dia menciptakan satu biji gandum."_

Dari semua hadits diatas menunjukkan tentang keharaman menggambar makhluk bernyawa, sama saja berbentuk patung ataukah berbentuk gambar biasa, dan sama saja baik menggambarnya dengan tangan atau menggunakan alat.

Sebagian pihak menyangka bahwa menggambar makhluk bernyawa jika (gambar tersebut) tidak memilki bayangan atau tidak berbentuk patung maka tidak mengapa, akan tetapi ini dugaan yang tidak bersandar pada dalil akan tetapi semata-mata hanya melihat realita saja dan meninggalkan nash-nash syariat yang kita diperintahkan oleh Allah untuk berhukum dengannya serta tunduk terhadap hukum-Nya.

Dan cukuplah membantah pendapat mereka ini hadits yang diriwayatkan imam al-Bukhari bahwasannya pernah suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang dari safarnya dan mendapati Aisyah telah menutupi bilik kamarnya dengan tirai yang bergambar, maka Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ berhenti dan tidak masuk kedalam, maka Aisyah berkata:

*ุฃุนูˆุฐ ุจุงู„ู„ู‡ ู…ู† ุบุถุจ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡*

“Aku berlindung kepada kepada Allah dari kemurkaan Allah dan Rasul-Nya."

Maka beliau shalallahu 'alaihi wasallam berkata:

*ูŠุง ุนุงุฆุดุฉ ุฅู† ุงู„ุฐูŠู† ูŠุตูˆุฑูˆู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุตูˆุฑ ูŠุนุฐุจูˆู† ุจู‡ุง ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ูŠู‚ุงู„ ู„ู‡ู… ุฃุญูŠูˆุง ู…ุง ุฎู„ู‚ุชู…*

”Wahai Aisyah sesungguhnya orang-orang yang menggambar seperti ini akan diadzab denganya pada hari Kiamat kemudian dikatakan kepadanya; _“Hidupkanlah apa yang telah engkau buat.”_

Kemudia Beliau memerintahkan Aisyah untuk menghapus gambar tersebut, demikianlah riwatnya atau yang semakna dengannya.

Maka pada hadits ini terdapat dalil bahwa gambar yang tidak memiliki bayangan juga haram sebagaimana yang memiliki bayangan, dikarenakan gambar yang ada pada tirai tersebut tidak memiliki bayangan, dan pendapat inilah yang benar.

Barang siapa yang berpaling dari pendapat ini maka sesungguhnya dia melakukannya semata karena hawa nafsu.

Para ulama berselisih tentang makhluk yang tidak bernyawa seperti gunung, pohon-pohon, lembah-lembah dan semisalnya, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu membolehkannya yaitu ketika beliau ditanya maka beliau berkata;

*ุฅู† ูƒู†ุช ู„ุงุจุฏ ูุงุนู„ุง ูุตูˆุฑ ู…ุงู„ุง ุฑูˆุญ ููŠู‡*

_“Kalau engkau terpaksa harus menggambar maka gambarlah sesuatu yang tidak memiliki ruh."_

Adapun pendapat yang tidak membolehkan gambar makhluk secara mutlak mereka berhujjah dengan hadits qudsi diatas yang berbunyi;

ูู„ูŠุฎู„ู‚ูˆุง ุฐุฑุฉ ูู„ูŠุฎู„ู‚ูˆุง ุดุนูŠุฑุฉ

_“Maka hendaklah mereka menciptakan dzarrah (biji atom) atau menciptakan biji gandum."_

Akan tetapi yang lebih utama kita katakan; Boleh menggambar mahkluk yang merupakan hasil karya manusia seperti gambar rumah, mobil, pesawat, senjata dan semisalnya, dan hendaknya kita menjauhi (tidak menggmbar) makhluk-mahkluk ciptaan Allah walaupun makhluk tersebut tidak memiliki ruh. Wallohu a’lam.

๐Ÿ“š *Sumber* || http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=108042

๐ŸŒ *Kunjungi* || http://forumsalafy.net/hukum-gambar-mahluk-bernyawa/

⚪ *WhatsApp Salafy Indonesia*
⏩ *Channel Telegram* || http://telegram.me/forumsalafy

๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž